Senin, 23 April 2012

Krencong

Hari ini merupakan hari yang sesuatu banget buat gue. Dimana buat yang pertama kali upacara tanpa kelas XII. Tentram dan lapangan sekolah serasa lapangan bola, luas banget :D


But over all, gue mengalami kejadian yang tak tahu kenapa ngebuat gue uring-uringan akhir ini.

3 hari yang lalu saat matahari terik dan mulai mengelupasi kulit tubuh, sinarnya nyentrik banget kaya ibu-ibu hamil yang perutnya gede banget, segede kepala temen gue yang andaikan jadi bom, pasti bisa ngancurin kota se-Jakarta.

This is my real story.
Pulang sekolah itu rasanya merupakan saat yang menyenangkan, hati lega karena pelajaran yang puyeng perlahan cuk kuyuk-kuyuk pergi. Guru-guru yang 'tau sendiri' lah perlahan hilang dari bayangan. Cuusss.

But, in a street gue nemuin cowok yang menyedihkan banget, nasibnya tragis, kepalanya menunduk bagaikan orang yang abis kerampokan. Jalannya gontai, *mirip banget ama orang yang abis dihajar sama penjahat kelamin. Mana yang paling penting adalah badannya KURUS banget, kaya satu buah triplek yang dibagi-bagi lagi jadi 10 bagian. Ampunn deh mana tingginya kaya jala lagi, berasa nyentuh kepalanya kaya ngambil bintang di langit. Whats the hell yats? Gak penting auuuuuwww

Gue perhatiin dengan saksama. Dan gue coba buat melangkah maju tuk ngedahului dia, gak kuat gue jalan dibelakangnya, amboy dan seksi banget pantat tuh cowok, mana rambutnya tergerai memanjang menjuntai hingga nyapu debu-debu yang ada di trotoarr

Syoookkk... Stresss... Depresi...
Setelah gue tahu siapa sebenarnya dia. Alahmak, cowok berjalan gontai itu yang disertai dengan pantat sekses dan rambut yang panjang itu adalah seorang Bencong alias Banci.

Banci : "Hai mas, kok ngeliatin eke gitu banget, bikin eke malu rasanya." kata tuh banci sambil ngerjap-ngerjapin matanya.

Idihh asli dah, langsung deh gue kabur terbirit-birit menuju rumah, husss melesat bagaikan angin.
Ampunn  deh gak lagi-lagi gue nemuin yang kaya gitu, begindang tuh banci cucok banget ama penapilannya. *ngikutin gaya banci* yang bikin gue gak pernah berhenti sembuh dari pusing kalo mikirin kejadian itu.Udah KREMPENG, BENCONG lagi. Aduuuh Krencong-Krencong. Nasibmu sangat tragis, tabahlah dalam menjalani hidupmu Cong Cong...


Selasa, 17 April 2012

Luruh

Inilah satu cerita cinta penuh nuansa tragis ..
Bukan maksud penulis terlalu mendramatis ..
Tapi memang dua insan dahulu kala begitu romantis ..
Brubah menjadi cinta penuh tangisan histeris.

Dirimu yang begitu berarti ..
Terlalu istimewa dihati ..
Kini telah tiada lagi ..
Tertidur lelap tak berkutik dalam gulitanya mati ..

Dulu aku begitu berharap penuh ambisi ..
Mengorbankan jiwa dan harga diri ..
Untuk mendapatkan secuil hati..
Darimu wahai permaisuri ..

Cinta yang menggebu-gebu penuh gelora ..
Tak habis walau hujan dan panas mendera ..
Sekarang sudah begitu jelas tertera ..
Disekap nisan berselimutkan sutera ..

Telah lelah tubuh ini berjalan ..
Menyusuri mimpi dan kenyataan ..
Mencoba mendapatkan lagi permaisuri yg dulu aku idamkan .
Tapi na'as, tak jua aku dapatkan ..

Sudahlah ..
Aku menyerah ..
Tak berdaya bagaikan tergeletak terbunuh dipalung lembah ..
Aku memang benar-benar sudah pasrah .

Semoga dirimu tahu ..
Lantunan do'a syahdu kupanjatkan setiap detik berlalu ..
Kuhadirkan pula bulir air mata penuh cinta dipusaran kecilmu setiap waktu ..
Dan tak terungkiri rupaku luluh berpeluh pilu

Jumat, 13 April 2012

Surat Tak Sampai.

Puisi berjudul : Surat Tak Sampai.Karangan : Ghiyatsableng



Kuncup mawar itu kini telah layu tak berwarna. 
Tak terasa telah lama aku mengagumimu wahai permata . 
Derai cerai cemara mungkin tak mampu hempaskan semilir laksana jingga. 
Walau ku tahu kau telah tiada. 

Bagikan seluruh anugrah kehebatan dengan merona merekah. 
Saat cinta itu telah tumbuh walau hanya secercah . 
Di sebuah ranah . 
Idaman pengagum rahasia kan membuat detak jantung terasa terpanah. 

Tak sempat ku alamatkan sebuah tempat eksotik impianmu. 
Padahal akan kusajikan hidangan termewah untukmu. 
Romansa romeo juliet sudah matang dan siap dipertunjukkan di pantai ungu. 
Tuk nyatakan sebuah cinta kasih terpendam selama berjuta hari dulu. 

Mataku melotot tajam saat mendengar sebuah berita .
Menyatakan kalau kau telah disurga. 
Aku hampir pingsan dibuatnya. 
Tragis, saat impian dan kenyataan tak sama. 
Tangis, kini sudah biasa. 
Mengantarkan kepergian walau disini ku tersiksa penuh derita. 


"Setiap perpisahan pastilah berbuah kesedihan. Tinggal bagaimana sikap kita lepas dari kesedihan itu."

Kamis, 12 April 2012

Harmoni Perih

Telah terjebakku dalam asa.
Limbung dalam kebingungan derita.
Tertelan laut hitam tak bercahaya.
Tenggelam dalam hidup tanpa cinta.

Eksperimenku telah mendapat banyak data.
Tentang dirimu, wahai permata !
Yang kini kutahu penuh dengan hipotesa tak berfakta.
Sungguh, aku tak menduga.

Gigih sudah kuperjuangkan gemerlap merah muda.
Dan selama itu hanya sia-sia.
Denganmu, kukira akan bahagia.
Tapi semua cuma ilusi yang tak nyata.

Begitu banyak referensi berserakan diatas meja.
Penuh noda merah dan bekas buliran air mata.
Tercoret perih menyayat relung jiwa.

Kini ia.
Bagaikan peneluh hebat penghancur jiwa.
Peretak mimpi dan harapan yang kian sirna.
Aku kecewa.
Aku terluka.
Terimakasih atas semua pembualan dengan baluran tangisan realita penuh emosi yang kau ada-ada.

"Cinta yang membuat bahagia ataupun sedih itu biasa. Tapi cinta yang bisa menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya itu langka."
-Ghiyatsableng- 

Selasa, 10 April 2012

Altar Putih


Kugoreskan sebuah silet di ruas-ruas jemariku.
Berharap kekecewaan ini dapat berlalu.
Bahkan kalau bisa ingin aku melewati ambang waktu.
Dan hadir di surga untuk mengadu.
Tentang semua lukaku.

            Bayangmu begitu menancap di hati.
            Sangat sulit untuk mati.
            Karena kenangan itu begitu terekam di memori.
            Hingga atap bumi ambrukpun dirimu takkan pernah terganti.

Malam inipun hadir seorang diri.
Tanpa senyuman manja rembulan yang biasanya menari.
Tanpa kelipan bintang yang baisanya menghiasi.
Sama seperti jiwa ini yang selalu sepi.

            Biasanya..
            Tiap matahari redup, wajahmu kian jelas menari.
            Didepan tatap sorot mataku bak bidadari.
            Tapi apa...
            Kau telah pergi.
            Dan selamanya takkan pernah kembali..
            Dan kini sudah tenang di sebuah tempat bernama Altar Putih.

"Bahagiakanlah kekasihmu, jika kau benar-benar mencintainya, buatlah sebisa mungkin dia terus tersenyum karenamu. Sebeluk senyumnya terenggut oleh kematiannya."