![]() |
Logo disponsori oleh KDRI dan mas Herbanu. |
Kita
berulang tahun di umur yang jorok. #ifyouknowwhatimean. Hahahahaha.
Mari
sambut matahari tujuh belas Agustus dengan semangat kebangsaan dan harapan
perubahan untuk lebih baik dan lebih baik lagi.
WARNING:
Cara terbaik menikmati tulisan ini adalah siapkan teh hangatmu, lagu Indonesia
Raya atau Tanah Airku atau Bendera, dan baca pelan-pelan.
Hmmm.
Mari kita ngomong-ngomong, tentang perubahan?
Sebenarnya
waktu kita masih panjang.
Orang-orang-sibuk-yang-padahal-dalam-kesibukannya-tidak-berarti-apa-apa-dan-kerjaannya-hanya-menghujat-bangsa-dan-bertanya-kapan-perubahan-tiba
adalah salah satu organisasi terselubung yang wajib negara musnahkah setelah
PKI dan Yahudi.
Kenapa?
Mari tengok bangsa yang besar, bangsa yang makmur dan rakyatnya sejahtera.
Mereka
telah berumur ratusan tahun, cukup tua untuk ukuran sebuah negara, dan mereka
menikmati masa tuanya, meneruskan tampuk kepemimpinan kepada penerusnya yang
tinggal ongkang-ongkang sambil minum kopi di pagi hari. Sebab itu, bersyukurlah
kita masih punya usia yang terbilang ‘anak-anak’ untuk ukuran sebuah negara.
Umur kita masih panjang. Namun siapa yang tahu kalau suatu saat, di umur yang
masih belia kita sudah menjadi bangsa yang hebat? Everybody doesn’t know, siapa juga yang tahu kalau sampai umur
ratusan tahun bangsa kita masih saja berkutat pada masalah bagaimana mencari
pemimpin yang baik, dan mengurusi koruptor bajingan yang tidak punya akal. Yah,
saya tahu, perubahan tidak semudah saya menulis tulisan sampah ini.
Ngomong-ngomong
yang lain, misalnya kontribusi?
Kita
sudah sangat hapal dengan kutipan dari Kennedy, blablabla pada dirimu sendiri, tapi tanyakan blablabla pada negara yang bisa membuatmu lebih keren kalau kau
memakainya misal dalam pidato perpisahan sekolah atau semangat kemerdekaan.
Kita ini terlalu pretensius, manusia yang sangat pintar berpura-pura,
berbohong, dan menipu daya satu sama lain.
Sampah.
Kita berpikir cara terbaik berarti pada negara adalah dengan cara menyumbangsihkan
segalanya apa yang kita punya. Kita sibuk mencari caranya, sampai kita tidak
lagi peduli pada orang-orang sekitar dan diri kita sendiri.
Mencari
segala
cara untuk terlihat sebagai orang yang paling berkontribusi terhadap
negara adalah salah satu alter ego yang patut dibumihanguskan dan dikutuk
selama dunia ini masih belum mati (sebenarnya sih sudah mati, kita dapat
merasakannya sendiri)
Marilah
kita berpikir maju, ini bukan tentang siapa yang paling besar berkontribusi
pada negara, bukan tentang menyombongkan cara kita berarti bagi negara, misal
dengan membangun jalan dengan tulisan ‘jalan ini dibangun oleh blablabla’, menyiapkan mega proyek bagi
pembangunan negara yang ujung-ujungnya duitnya ditilep.
Percayalah,
orang yang tiap hari memunguti sampah dan berjuang mencari nafkah untuk
keluarganya jauh lebih mulia. Percayalah, orang yang tiap hari belajar ikhlas
demi keberlangsungan pikiran negara adalah orang-orang yang patut disegani
setelah orang-orang yang mengajari mereka. Percayalah, pemimpin yang tumbuh
baik dengan rangsangan lingkungan dan orang-orang yang juga baik adalah pemimpin
yang masih harus kita cari keberadaannya, ia tidak mau muncul bukan sebab ia
tidak mau memimpin negara, ia tidak mau muncul (mungkin) belum merasa pantas
menjadi pemimpin. Dan, masih banyak orang-orang berkelakuan sederhana yang
menyumbang banyak arti pada negara.
Percayalah,
mereka lebih berarti daripada orang-orang yang besar di pemerintahan tapi
kerjaannya cuma tidur dan nonton film porno ketika rapat. Percayalah, mereka
lebih berarti daripada orang-orang yang sibuk meributkan tentang siapa yang
menang dan siapa yang kalah.
Ngomong-ngomong
hal lain lagi, misalnya tentang makna dari kemerdekaan?
Adalah
kebebasan. Jadi, sudahkan kita bebas dari penjajah? Baik secara harfiah ataupun
tidak. Mungkin, yang patut kita koreksi adalah apakah kita sudah terbebas dari
hal-hal buruk yang terikat di diri kita?
Selamanya,
mungkin kita tidak akan pernah mendapatkan kemerdekaan itu.
Tapi,
mari kita sederhanakan. Apakah kebebasan cukup dengan kegembiraan? Bagi saya,
itu sudah lebih dari cukup. Betapa banyak anak-anak kecil yang tinggal di
pedalaman, dimana tidak ada ponsel pintar, tablet canggih, makan susah, hidup
melarat, kepala kecil, perut besar, berak susah, tidur apalagi, hidup jangan
ditanya tapi lebih bahagia daripada orang-orang yang tinggal dengan segala
kemewahan.
![]() |
Oh Yeah. AOKAOWKAOKWO.. |
Mereka
masih memaknai kemerdekaan sampai saat ini meski hanya dengan tawa kecil akibat
jatuh dari karungnya, ataupun memuntahkan kerupuknya karena terlalu antusias
untuk dapat menang, ataupun menangis karena kelerengnya jatuh dari sendok,
ataupun kelelahan karena berlari tanpa henti memindahkan batu, ataupun
bersorak-sorak gembira meski pinang itu sulit dinaiki, dan ujung-ujungnya
bahagia karena hadiahnya diberikan secara gratis. Bersyukurlah, jika kamu
termasuk generasi anal-anak bahagia itu.
Apakah
kegembiraan cukup itu saja? Jika kita masuk ke dalam konteks caranya, mungkin masih
ada seribu satu cara lagi untuk bergembira atas kemerdekaan kita. Jauh di atas
apa yang sudah saya tulis disini (yang entah benar atau salah memaknai
kemerdekaan kita) , jauh di atas hal besar yang sudah kita lakukan:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar