Tampilkan postingan dengan label Old Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Old Story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 September 2014

Jogja dan Beberapa Imaji yang Belum Dibersihkan.



            20 September 2014.

Perjalanan terbaik adalah ketika memandang dunia dari balik jendela kendaraan, meski itu kendaraan yang paling kubenci: bis.

Bis punya sejarah sendiri mengapa ia sangat kubenci: salah satunya adalah, ia yang selalu menjadi saksi kepergian, kedatangan, dan air mata. Cerita-cerita di dalam bis pun seolah tak lekang dimakan zaman, meski aku juga membenci kenangan yang tercipta bersamanya, tentang perempuan berkerudung yang duduk di belakang sana. Ataupun perempuan berwajah putih dengan rambut ekor kuda dan sejumput rambut tipis yang jatuh di depan telinganya. Atau yang lebih membuatku benci adalah kenyataan aku pernah berbagi cerita masa lalu dan masa depan bersama sahabat. Dan mereka akan menjalani hidupnya sendiri-sendiri.

Senin, 08 September 2014

Monolog Tentang September dan Isinya



            Di awal September. Luka dan derita jadi satu. Lengkap dengan paket-paket kenangan yang menghibur ala depresan. Tanpa suka yang membungkusnya atau efek setelah membuka. Tanpa bahagia. Sederhananya, September adalah bulan yang patut dibumihanguskan dari peradaban muka bumi.

Manusia, manusia. Ia menghujat di awal-awal. Tahunya cinta tak berkesudahan. Mengenai paragraf satu mengenai September mohon dilupakan. Itu kebohongan pertama. Sebaliknya, September adalah bulan yang ceria. Baiklah, ini kebohongan kedua.

Minggu, 15 Juni 2014

12 Tahun Bersembunyi Di Balik Punggungnya


            Karena awalan ‘dear, ayah’ atau ‘untuk, ayahku tercinta’ sudah terlalu biasa.

Untuk pengantar setiaku selama dua belas tahun.

Aku tahu ayah lelah, maafkan aku yang selama ini tidak mau belajar kendaraan, hingga setiap pagi engkau harus mengantarku di balik kemudi motor butut dan menghabiskan lima belas menit setiap harinya.

Senin, 23 September 2013

Pada Kalimat-kalimat yang Begitu Bodoh


 Denganmu, aku jadi orang paling beruntung.
Denganmu, semua tidak sia-sia.
Denganmu, tawa menjadi lebih nyaring dari biasanya.
Denganmu, senyum menjadi lebih mengembang dari biasanya.
Denganmu, aku jadi tidak biasa.
Denganmu, waktu begitu terasa cepat.
Denganmu, makanan apapun jadi enak.
Denganmu…
Denganmu, aku berani bermimpi.
Denganmu… aku bahagia.

Kamis, 06 Desember 2012

Menuju(h) Lalu


            Beberapa hari gak mosting ngebuat tangan jadi kaku, bingung nyari ide buat bahan tulisan... Ujung-ujungnya pengen ngelakuin apa-apa jadi bingung.. Kampretaaaaassss! Begitulah bahasa si Adel..... Semua rusak... Untuk akhir-akhir ini.

Tadinya sih pengen nulis kejadian yang OSIS/MPK pada main ujan-ujanan. Tapi, lebih baik ditunda dulu deh. Lagi gak pengen bahas yang seneng-seneng -____-

Okeee. Beberapa hari yang lalu, gue baca sebuah quote yang bisa dibilang.... ngerusak.

.......Percuma kalau kita menghapusnya secara sepihak, karena orang lain masih memiliki kenangan akan kita.......

Keren? Iya sih gue akuin keren.... Tapi, seketika gue baca quote itu tiba-tiba bayangan-bayangan liar muncul di kepala gue. Sekilas gue inget apa yang pernah temen gue omongin. Dia pernah ngalamin sebuah kejadian yang pahit..... seperti ampas kopi.
***

            “Yats. Andaikata lo lagi sayang banget sama orang, tapi seketika orang yang lo sayang itu tiba-tiba hilang. Perasaan lo gimana?”
“Sedih dong.”
“Kalau kita gak merasa apa-apa. Bahkan kita lebih ngerasa seneng kalo dia hilang?”

Disini gue mulai agak heran, bisa-bisanya dia kehilangan orang yang disayang, sementara dia sendiri ngerasa seneng akan kehilangan itu.

            “Lho? Ada ya kehilangan orang tapi kitanya malah seneng?”
“Itulah yang terjadi pada gue.”
“Kok bisa?”
Dia menarik nafas panjang, amat-amat panjang.”Setiap kejadian pasti punya kenangan. Tentu lo tau akan itu. Setiap cinta yang bersemi tentu akan gugur pada waktunya nanti, entah itu putus karena tidak saling cinta lagi, perselingkuhan, ataupun kematian. Semua bisa aja terjadi. Ketika kenangan itu udah kebuat, apalagi sampe gak bisa terlupakan. Tiba-tiba orang yang bersama kita ngebuat kenangan itu pergi. Gimana sikap lo akan kenangan itu?”
“Gue akan coba buat lupain itu semua.”
“Segampang itu kah?” Tanyanya sengit.
“Kenapa harus dipersulit? Inget bro... Kenangan ya tinggal kenangan. Itu hanya sebuah masa lalu. Itu malah bisa jadi penghambat kebahagiaan lo.”
“Seperti biasa, pemikiran umum......” Katanya sinis. “Lo belum tau kan gimana perasaan orang yang ninggalin kita terhadap kenangan itu? Lo belum tau kan bagaimana berartinya kenangan itu baginya? Lo belum tau kan kalo dia belum tentu mudah ngelupain kenangan itu seperti lo ngelupain kenangan itu.
“Lalu?”
Simple-nya gini. Hidup itu emang gak adil... Kita berusaha lupain kenangan itu, tapi dia belum tentu ngelupain kenangan itu. Disaat itu, kita akan menjadi orang paling egois sedunia. But, in other side, kita berusaha ngebuat kenangan itu menjadi sebuah pengalaman yang akan hidup abadi, tapi....... dia berusaha mati-matian ngebunuh kenangan itu. Disaat itu, kita akan tau bagaimana setiap kenangan punya arti, sepantasnya biarkan dia tetap hidup.”
"Terus balik lagi, kenap lo seneng?"
"Karena setidaknya gue pernah bahagia."

Gue geleng-geleng kepala denger omongan temen gue itu..... Pemikiran dia emang beda sama bocah-bocah SMP yang lain... Karena hidup dia emang beda sama bocah-bocah lain... Absolutely, you know what i mean.
***
            Quote tadi ngebuat kejadian itu terngiang lagi, meskipun banyak edit-edit disana-sini. Tapi gue berusaha buat tulisan tadi kaya lagunya D’massive, natural............

Kesimpulan? Lo sendiri deh yang nyimpulin, udah dapet pelajaran bahasa Indonesia kan? XD

Okee, sekian posting gue kali ini. Sebuah cerita yang sebenarnya bukan cerita, tentang sebuah kutipan akan kenangan. Tentang sebuah kenangan yang dikutip menjadi sebuah pemikiran. Sekian, semoga bermanfaat. Bye...........


Sabtu, 20 Oktober 2012

Rain #3.. Bam dan Ara


            Hallo sobat semua. Semoga masih betah ya main ke blog kecil ini. Setelah project Rain #1.Wish You Come Back Here & Rain #2.. Ketika Bocah SD Masih Bocah Ingusan berhasil dipublish. Kali ini mau coba bikin project Rain #3.
***
            Jam masih menunjukkan pukul 05.30 pagi. Sambil membawa segelas susu hangat, Bam duduk di kursi cokelat yang berada di teras rumahnya. Sembari meminum sedikit demi sedikit susu itu, di luar sana, gerimis tengah menghampiri bumi. Entah mengapa, beberapa hari ini begitu berat, sangat-sangat berat.

Bam mencoba mengingat lagi beberapa hari yang lalu, ketika ia kembali bertemu dengan Ara di sebuah kafe kecil di sudut kota kesayangannya. Ini tidak bisa dibilang kebetulan, ini benar-benar diluar dugaan Bam. Setelah lebih dari satu tahun berpisah, tiba-tiba saja Ara tampil begitu saja dihadapannya, dengan rambut kuncir kuda dan poni yang masih khas seperti dahulu. Bam hanya melihat heran ke arah wanita dengan sosok tubuh kecil itu.

Ara masih belum menyadari kehadiran Bam yang tengah duduk memperhatikannya. Ara masih asik mendengarkan teman-temannya berceloteh ria, dari dahulu Ara memang menjadi pendengar yang baik. Meski sekarang terlihat Ara agak sedikit introvert.

Saat tengah asik Bam mengamati Ara, tiba-tiba saja fikiran liar itu datang menggerogoti fikiran Bam, memaksa kenangan-kenangan yang indah dan buruk hadir kembali. Sungguh, inilah yang paling ditakutkan oleh Bam.

Ara terlihat beranjak dari tempat duduknya, sedikit lagi ia melintas didepan meja Bam. That is a moment.

“Hai Ara, ngapain disini?” Tanya Bam dengan suara pelan, dan senyum yang coba dipaksakan.

Ara kaget sejenak, begitu ia melongokkan kepalanya dan mendapati Bam yang duduk sendirian, bertambah kagetlah Ara. Tatapannya kosong, tanpa arti, seolah tidak mengenal sosok yang tadi memanggilnya.

Beberapa detik kemudian, Ara berbalik menuju mejanya kembali, meninggalkan jejak yang Bam tak mengerti. Sikapnya sangat dingin, begitu tak perduli, dan sorot matanya menyiratkan bahwa Ara sangat tak menginginkan Bam, sangat-sangat tidak ingin.

Bam hanya diam, menghela nafas sejenak, lalu melangkah keluar dari kafe tersebut.

Hujan yang semakin deras menyadarkan Bam yang masih duduk di teras dengan segelas susu hangat. Ini memang berat, tapi Bam sadar, ia tak mau kembali membuka masa lalunya. Hidupnya sudah beranjak, tanpa Ara yang dari dahulu memang tak pernah ‘benar-benar’ hadir dalam hidupnya. Cukup sampai kemarin saja Bam melihatnya kembali.

***

            Hiks..hikss..sedih gak bro? Yaa semoga aja kalian gak pada nangis lah, cemen banget nangis gara-gara cerita begituan. Inilah project Rain #3 persembahan dai Ghiyatsableng, semoga dapat sedikit menghibur ya.

            Intinya, hidup itu harus diarahkan kedepan, biarlah masa lalu menjadi kenangan, dan jangan biarkan masa depan menjadi seperti masa lalu yang kembali terjadi ‘kenangan buruk’. Dan, pada akhirnya, post kali ini semoga memberikan banyak pelajaran bagi pembaca semua, dan khususnya bagi yang nulis.

            Byeee.. Sampai jumpa dilain waktu :D