![]() |
Diambil sembarang dari google.com |
Saya pertama kali kenal Majalah
Surah adalah ketika mas Dedik, si
rambut-mirip-buku-terkena-air-lalu-bergelombang yang bersahaja –dan merangkap
menjadi penyelaras akhir novel Bunga di Atas Batu, #okepromosi– itu memberikan
saya buku berjudul Dari Hari Ke Hari karangan Mahbub Djunaidi, saya terkesan
dengan ceritanya, dan lebih-lebih lagi pada harganya¸ yah, makhluk mana yang
tidak terkesan kalau diberi barang gratis?
Sejak
saat itu, meski tidak terlalu antusias, saya jadi sesekali melihat aktivitas
Surah di timeline twitternya. Dan
kabar gembira, ketika mas Zakky dan mas Alawi akan mengumpulkan karya-karyanya
dalam satu buku, saya sangat berniat untuk membacanya, yah, walaupun tidak
terlalu mengenal keduanya, mana ada sih
hasrat yang bisa ditahan?
Pucuk
dicinta dan teh pucuk pun tiba.
Voila! Saya dapat gratisan untuk yang kedua kalinya dari
Surah, buku Gula Kawung, Pohon Avokad dan cerita-cerita pendek lainnya berhasil
saya genggam sebab keberuntungan dewi Fortuna yang mungkin saat itu tengah
terkesima dengan jam-jam tidur saya yang mulai tidak terkendali liarnya.
Dewi
Fortuna berkata, “Daripada kau tidur, mending kau baca buku ini!”
Akhirnya
saya baca buku itu, dan berikut komentar-komentarnya, meski tidak tajam dan
menyeluruh, tapi, bukankah apresiasi lebih penting?
Cerpen-cerpen
Abdullah Alawi,
Gula Kawung
Kalimahnya
inspiratif, cont; sementara matahari senja mulai tunggang gunung. Jadi, saya
tahu tunggang-menunggang itu tidak hanya di ranjang dan kuda saja. Lalu,
mengenai humor mimpi basah tak usah dibagi adalah buah didikan yang cerdas dari
malam-malam panjang bersama perempuan dalam khayalan.
Yang
saya heran, adalah kemunculan Euis. Ya, ia bagaikan datang tak diundang,
pulangpun ya tak mengapa. Euis tak mampu menjadikan dirinya sebagai twist yang oke.
Jalas Aspal Bulan Lima
Sensei¸ ini cerpen genius. Sekarang, saya jadi tahu cara
menyingkirkan kejahatan, terutama kemalingan; ubah aspal menjadi jalan tanah
yang becek agar mereka susah lewat dan gampang terjerembab.
Listrik Mati Lagi
Mistis.
Saya menyarankan agar dibuat sekuelnya berjudul “Harga Listrik Naik Lagi”. Itu
lebih menakutkan daripada sekadar mati listrik.
Jalu Mengasah Golok
Makin
tua makin sip. Yah, begitulah tagline
yang pas untuk si golok. Alih-alih saya dapat amanatnya, saya malah ketimpa
pertanyaan¸ apakah golok itu bisa
memenggal tiang listrik di pinggir jembatan hingga perempuan idola saya tidak
lagi malam mingguan di sana?
Tidak
usah di jawab pun tidak apa-apa.
Karena
tiang listrik di dunia ini sangat banyak.
Antara Ibu dan Ayah
Ini
baru cerita bualan dan omong-kosong yang besar. Puncaknya yang begitu,
bayangkan begini, kau ingin ejakulasi, tapi air bekas cucian disirami ke
wajahmu dan membuat mimpi basahmu yang tak usah dibagi ke orang banyak itu
menjadi gagal.
Cerpen-cerpen
A. Zakky Zulhazmi,
Masjid Abah
Mas,
mas, ini jadinya kelanjutan ceritanya bagaimana ya?
Gantung-menggantung
itu biasanya berimbas buruk; gantung diri, gantung harapan, gantung baju (eh
taunya hujan), gantung cerita (eh pembacanya kesel karena saking gregetan dan
akhirna gantung diri). Kecuali, gantungnya yang gondal-gandul. Ah, sudahlah lupakan.
Lelaki dengan Rajah Akar di Pipi
Kirinya
Kebetulan,
saya tinggal lama di Tangerang, dan kejadian semacam musibah Situ Gintung
menjadi salah satu berita paling menghebohkan yang bisa saya lihat secara
langsung setelah banjir Ciledug Indah yang mencapai area selangkangan pohon
kelapa (dan saya masih bertanya kepada diri sendiri, di mana kah letak
selangkangan pohon kelapa itu sendiri?). Waktu itu, bapak bilang dengan suara anyep, “Tuhan itu pandailah
memperingatkan kita, dan bersyukurlah karena diperingatkan, berarti Ia masih
sayang sama kita.”
Aku
mengangguk kalem.
Dan
bagian lain yang merasa saya seperti dejavu
adalah sosok Edi, apakah ini jelmaan dari mas Dedik? Mengingat rambutnya
ikal mengombak selehernya dan makannya banyak. Lagipula, ada suku kata ‘edi’
juga dalam kata ‘Dedik’. Yah, ini mungkin hanya praduga belaka karena saya
mungkin terlalu berharap banyak pada sekuel AADC.
Tak Ada yang Minum Kopi Malam Ini
Mas
Zakky yo hambok bikin angkringan
sendiri. Jangan lupa pake deklit merah penerus mas Satrio.
Nanti
yang pernah baca cerpen ini ketika bertandang ke angkringan berkata, “Wah bagus
ya, kapan lagi main ke angkringan yang ada di dalem buku.”
Diam-Diam Aku Simpukan, Alangkah
Indahnya Rahasia
Likeable.
As same as Totto-chan, ya saya sih merasanya begitu.
Pohon Avokad
Sederhana
dan menyentuh. Saya jadi ingin pulang dan menanam pohon cabai di rumah yang
dulu saya dapat dari ehm saya. Oke,
kalimat kedua tadi itu tidak penting sama sekali.
Sepertinya
endorse yang ditulis Dedik Priyanto di halaman blurb¸ ‘Kau tentu tidak akan
melewatkan bertemu kawan lama yang begitu pandai bercerita, bukan? Dan tugasmu
adalah menjadi pendengar yang baik, menyiapkan bercangkir-cangkir kopi,
menemaninya sampai pagi tiba’.
Saya
rasa itu sebuah kalimat yang cerdas dan anti-indolen. Saya setuju dan dengan
permen kaki yang habis dua bungkus dan juga kacang Skanghai, saya menamatkan
buku ini sambil seolah-olah merasa ada yang tengah mendongengi saya. Kesimpulan
mayornya adalah buku ini tidak semata-mata tentang omong-kosong dan
bual-membual, saya melihat aliran positivisme dalam menanggapi masalah-masalah
sederhana yang kadang terjadi di sekitar kita; mengenai budaya, adat, hal-hal
mistis, rumah dan tentunya kenangan-kenangan.
Dan
kesimpulan minornya (dan kata siapa hal-hal minor tidak penting, justru hal-hal
kecil yang menjadikan segala hal utuh dan bermakna); ini buku bagus, dan buku
bagus seharusnya tidak kalian sia-siakan untuk kalian beli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar